BAB 12
A.
DEVINISI
ASET TETAP
Definisi atau Pengertian Aset Tetap menurut
para ahli, Aset Tetap atau yang juga biasa disebut Aktiva Tetap adalah harta
kekayaan atau sumber daya entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta
dikuasai dari hasil kegiatan ekonomi (transaksi) pada masa yang lalu. aset
tetap diguanakan dalam menjalankan aktivitas operasional usaha entitas bisnis
guna menghasilkan barang atau jasa. dalam menghasilkan barang dan jasa, peranan
aset tetap sangat signifikan. misalnya tanah/lahan dan banguan tempat produksi,
mesin dan berbagai peralatan lainnya yang digunakan sebagai alat produksi dan
yang lainnya.
"Aset
tetap adalah Aset suatu entitas yang menjadi hak milik entitas bisnis
(perusahaan) yang digunakan untuk memproduksi (menghasilkan) barang atau jasa
entitas bisnis dan penggunaannya secarara terus menerus."
Sedangkan PSAK menuturkan bahwa aktiva tetap ialah Aset yang
berwujud yang didapat/diperoleh dengan kondisi siap pakai ataupun dibangun
terlebih dahulu dan dipakai dalam aktivitas operasi entitas binis, tidak ditujukan
dijual kembali dlam rangka aktivitas normal perusahaan serta memiliki manfaat
ekonomi lebih dari satu tahun buku (lebih dari satu periode).
Karakteristik Aktiva Tetap
Aset Tetap memiliki
beberapa karakteristik, berikut diantaranya:
-
Mempunyai
wujud fisik
-
Tidak
ditujukan untuk dijual lagi
-
Memiliki
nilai yang material, harga aset tersebut cukup signifikan contohnya tanah, bangunan, mesin dan kendaraan dll.
-
Memiliki
masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku dan nilai manfaat ekonominya
bisa diukur dengan handal.
-
Aset
digunakan dalam aktivitas normal perusahaan (tidak untuk dijual lagi seperti
barang dagang/persediaan atau investasi) misal, mobil bagi dealer mobil diakui
sebagai "persediaan" bukan aktiva tetap sedangkan bagi perusahaan
manufakture mobil diakui sebagai "Aktiva Tetap" bukan persediaan.
Pengakuan Aktiva Tetap
Sebuah Entitas bisnis atau perusahaan mengakui setiap aset
sebagai aset tetap jika aset yang dimiliki telah memenuhi sifat dan
karakteristiknya seperti yang telah disebut sebelumnya. Aset yang berwujud
diakui dan diklasifikasikan kedalam aset tetap jika:
-
Potensi
manfaat ekonomi aset akan dirasakan perusahaan dimasa mendatang. untuk
menentukan/menilai suatu aset akan memberikan manfaat dimasa mendatang,
terjadinya manfaat ekonomis aset tersebut harus dinilai dan dipastikan bahwa
entitas usaha akan mendapatkan imbalan manfaat dan menerima resikonya yang
terkait.
-
Biaya
perolehan aset yang dikeluarkan bisa diukur dengan handal, bukti bukti
transaksi perolehan aset diperlukan guna mendukungnya.
Hal yang juga tak kalah penting dalam pengakuan aktiva tetap
adalah perusahaan mempunyai kontrol/kendali atas manfaat ekonomis yang
diharapkan akan diterima dari aset tetap tersebut.
Penggolongan Aktiva Tetap
Aset tetap diklasifikasikan
(dikelompokkan) karena aset tetap mempunyai sifat dan karakter yang beda dengan
aktiva yang lain. Aset tetap terdiri atas beberapa jenis barang, jadi perlu
dikelompokkan masing masing aktiva tersebut. pengelompokan aktiva ini berdasarkan
kebijakan Akuntansi pada entitas bisnis masing
masing karena pada umumnya makin banyak aset tetap yang dimiliki akan makin
banyak juga kelompoknya. Nominal atau nilai yang relatif signifikan dan jenis
serta bentuk aktiva tetap yang cukup beragam membuat perusahaan harus lebih
berhati hati dalam proses penggolongannya. biasanya, untuk tujuan akuntansi,
aktiva tetap digolongkan seperti ini:
-
Aset
Tetap yang umumnya tak terbatas misalnya tanah untuk letak entitas perusahaan,
peternakan dan pertanian.
-
Aset
Tetap yang umumnya terbatas, dan jika asetnya telah habis penggunaannya bisa
diganti oleh aset sejenis. contohnya mesin, peralatan, mebeler dan yang
lainnya.
-
Aset
Tetap yang umumnya terbatas dan jika penggunaannya telah habis tidak bisa
diganti dengan aset sejenis misal tambang dan sumber alam yang lain.
Dan seorang Sofyan Safri mengelompokkan aktiva tetap dari
berbagai sudut, antara lain:
1. Sudut Substansi
Aset Tetap
-
Aset
Berwujud (Tangible Assets), misalnya gedung, mesin, peralatan dll
-
Aset
Tidak Berwujud (Intangible Assets), misalnya hak patent, trademark, goodwill,
franchise dll
2. Aset Tetap Disusutkan atau tidak
disusutkan
-
Aset
disusutkan (Depresiasi plant asset) seperti mesin, bangunan, peralatan,
kendaraan dll.
-
Aset
tidak disusutkan (Undepreciated plant asset) seperti tanah
3. Aset Tetap Berdasarkan Jenisnya
-
Bangunan,
gedung yang berdiri pencatatannya dipisah dari lahan yang menjadi lokasinya
-
Lahan,
sebidang tanah kosong ataupun sudah ada bangunannya, pencatatannya dipisah
dengan bangunan.
-
Mesin,
didalamnya termasuk peralatan yang menjadi komponen/bagian dari mesin
-
Kendaraan,
semua jenis kendaraan seperti kendaraan bermotor, alat pengangkut dan yang
lainnya
-
Perabot,
semua yang merupakan isi dari gedung. misalnya perabotan kantor, perabotan
pabrik,
-
Inventaris,
peralatan yang digunakan sperti inventaris gudang, inventaris kantor dan yang
lainnya.
-
Prasarana,
seperti jalan akses, pagar, jembatan dan lain sebagainnya
B.
HARGA
PEROLEHAN ASET TETAP
Harga
perolehan aktiva tetap meliputi seluruh jumlah yang dikeluarkan untuk
mendapatkan aktiva tersebut. Jadi, aktiva tetap akan dilaporkan dalam neraca
tidak hanya sebesar harga belinya saja, tetapi juga termasuk seluruh biaya yang
dikeluarkan sampai aktiva tetap tersebut siap untuk dipakai. Sebagai contoh
adalah mesin produksi, di mana harga perolehannya tidak hanya berasal dari harga
beli saja, tetapi juga termasuk pajak, ongkos angkut, biaya asuransi selama
dalam perjalanan, ongkos pemasangan dan biaya uji coba, sampai mesin produksi
tersebut benar-benar dapat dioperasikan dan dimanfaatkan.
Demikian
juga halnya dengan harga perolehan untuk tanah, di mana tidak hanya terdiri
atas harga belinya saja, melainkan juga termasuk biaya-biaya lainnya yang perlu
dikeluarkan sampai tanah tersebut dapat dipergunakan, seperti biaya survei,
pajak, komisi broker, biaya pengurusan surat untuk mendapatkan hak kepemilikan
atas tanah, biaya. pembersihan/pengosongan/pembongkaran bangunan lama yang
tidak dikehendaki (clearing cost) dan biaya perataan (grading cost).
Di sisi lain, jika seandainya, di atas tanah yang baru dibeli tersebut sudah
terdapat bangunannya dan pada akhirnya bangunan tersebut harus dirobohkan agar
supaya dapat dibangun bangunan baru yang sesuai dengan kehendak atau kebutuhan
pemakai (pembeli), maka hasil dari penjualan puing-puing atas bongkaran
bangunan lama tersebut justru akan diperhitungkan sebagal pengurang dari harga
perolehan tanah.
Untuk
bangunan yang dibangun sendiri, maka harga perolehannya terdiri atas biaya ijin
membangun, biaya untuk membeli bahan-bahan bangunan, biaya upah pekerja, biaya
sewa peralatan untuk membangun, bahkan termasuk bunga atas dana yang dipinjam
untuk membiayai pembangunan gedung baru tersebut.
Aktiva
tetap selain dapat diperoleh dengan cara dibeli, dapat juga diperoleh melalui
sewa guna usaha modal (capital lease), pertukaran dengan aktiva nonmoneter
yang ada, penerbitan sekuritas, konstruksi sendiri, sumbangan, akuisisi
perusahaan secara keseluruhan, atau dapat juga diperoleh melalui sistem
bangun-guna-serah (build, operate, and transfer).
Sewa guna
usaha modal adalah suatu kontrak di mana satu pihak (penyewa) diberikan hak
untuk menggunakan aktiva yang dimiliki oleh pihak lain, yaitu pihak yang
menyewakan, selama suatu periode waktu tertentu dengan membayar sejumlah biaya
periodik tertentu. Pada hakekatnya, sewa guna usaha modal secara ekonomis sama
dengan pembelian aktiva tetap secara kredit jangka panjang. Dalam akuntansi
terdapat ungkapan "substansi mengungguli bentuk” (substance over form),
yang artinya bahwa laporan keuangan seharusnya mencerminkan substansi, ekonomi
yang mendasarnya dan bukan pada bentuk hukumnya. Jadi, jika sebuah perusahaan
secara ekonomi memiliki kendali atas manfaat ekonomi masa depan dari suatu
benda, maka benda tersebut dikategorikan sebagai aktiva, tanpa melihat apakah
benda tersebut dimiliki secara sah atau tidak. Untuk kasus sewa guna usaha
modal ini, aktiva yang disewagunausahakan akan dicatat sebagai aktiva tetap
dalam pembukuan perusahaan penyewa (lesse) selaku pengguna aktiva, dan
bukan dalam pembukuan perusahaan yang secara hukum masih memiliki aktiva
tersebut dalam hal ini adalah si pemberi sewa (lessor). Aktiva pada sewa
guna usaha modal dicatat sebesar nilai sekarang (present value) dari
pembayaran sewa di masa depan.
Dalam
beberapa kasus, perusahaan dapat memperoleh sebuah aktiva baru, dengan cara
menukar aktiva nonmoneter yang ada. Umumnya, aktiva yang baru tersebut akan
dicatat sebesar nilai pasar wajarnya atau sebesar nilai pasar wajar dari aktiva
yang diserahkan, mana yang lebih dapat ditentukan dengan mudah. Jika aktiva
yang diserahkan untuk dipertukarkan adalah peralatan bekas, maka nilai pasar
wajar dari aktiva yang baru umumnya lebih dapat ditentukan dengan mudah dan
oleh karena itu akan digunakan untuk mencatat pertukaran.
Perusahaan
dapat memperoleh aktiva tetap tertentu dengan cara menerbitkan saham (sekuritas
modal) atau obligasi (sekuritas utang). Ketika nilai pasar dari sekuritas dapat
ditentukan, maka nilai tersebutlah yang akan digunakan sebagai nilai aktiva.
Namun, jika sekuritas tidak memiliki nilai pasar, maka nilai pasar wajar dari
aktiva yang diperoleh yang akan digunakan. Dalam kasus sekuritas tidak memiliki
nilai pasar, maka penilaian oleh sebuah organisasi yang independen atas aktiva
yang diperoleh mungkin diperlukan untuk mendapatkan nilai pasar wajar yang
objektif.
Kadang
kala gedung dibangun oleh perusahaan untuk digunakan sendiri. Ini mungkin
dilakukan untuk menghemat biaya konstruksi, memanfaatkan fasilitas yang tidak
terpakai, atau untuk mendapatkan kualitas bangunan yang lebih baik. sama halnya
seperti pembelian aktiva, harga perolehan aktiva tetap yang dibangun sendiri
meliputi seluruh pengeluaran-pengeluaran yang terjadi sehubungan dengan
pembangunan aktiva tersebut hingga siap digunakan.
Aktiva
tetap yang diperoleh melalui donasi (sumbangan) seharusnnya dinilai dan dicatat
sebesar nilai pasar wajarnya dengan mengkredit akun modal donasi, atau
pendapatan, atau keuntungan. Pencatatan akun modal donasi dilakukan jika aktiva
yang diperoleh berasal dari pemberian pemerintah. Sedangkan aktiva yang
diperoleh dari pemberian instansi swasta seharusnya diakui sebagai pendapatan
atau keuntungan dalam periode di mana aktiva donasi tersebut diterima.
Build, operate, and transfer (BOT)
adalah suatu perjanjian kerjasama yang dilakukan dalam bentuk pendanaan aktiva
tetap. Biasanya hal ini dilakukan oleh pemerintah daerah yang tidak memiliki
sumber keuangan yang cukup untuk membangun infrastruktur dalam memenuhi
kebutuhan masyarakatnya tetapi memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Oleh
karena itu, sebagai alternatif pendanaan, mereka bekerjasama dengan pihak
investor swasta yang memiliki dana besar agar dapat mengembangkan potensi yang
mereka miliki dengan melakukan suatu kegiatan usaha bersama. Pada akhir
kerjasama operasi, pihak investor diharuskan menyerahkan aktiva BOT kepada
pemerintah daerah setempat.
C.
PENYUSUTAN
ASET TETAP
Mengenai
PENGELUARAN (EXPENDITURES) dalam fase pengunaan aktiva tetap telah dibahas
dalam artikel sebelumnya. Pada artikel ini akan dibahas mengenai PENYUSUTAN AKTIVA
TETAP (DEPRECIATION).
Penyusutan (Depreciation) merupakan
salah satu konsekwensi atas penggunaan aktiva tetap, dimana aktiva tetap akan
mengalami ke-aus-an atau penurunan fungsi.
Apa Itu Penyusutan (Depreciation) ?
Logika umum :
Penyusutan (Depreciation) merupakan
cadangan yang nantinya digunakan untuk membeli aktiva baru untuk menggantikan
aktiva lama yang sudah tidak produktif lagi .
Logika Akuntansi :
Penyusutan (Depreciation) adalah Harga Perolehan Aktiva Tetap yang di alokasikan ke dalam Harga Pokok Produksi atau Biaya
Operasional akibat
penggunaan aktiva tetap tersebut.atau ;Cost/Exepenses yang diperhitungkan (dibebankan) dalam
Harga Pokok produksi atau biaya operasional akibat pengunaan aktiva di dalam
proses produksi dan operasional perusahaan secara umum.
Saat pencatatan :
Biasanya dicatat (dibukukan)
pada saat penutupan buku (entah : akhir bulan, akhir kwartal, akhir tahun
buku).
Besar-nya :
Dicatat sebesar nilai penyusutannya, tergantung berbagai faktor (lebih
rincinya, lanjutkan ke sub pokok bahasan berikut inI.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Biaya Penyusutan
1.
Harga Perolehan (Acquisition Cost)
Harga
Perolehan adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap biaya penyusutan.
2.
Nilai Residu (Salvage Value)
Merupakan
taksiran nilai atau potensi arus kas masuk apabila aktiva tersebut dijual pada saat
penarikan/penghentian (retirement) aktiva. Nilai residu tidak selalu ada, ada
kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva tersebut tidak
dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis
terkorosi. Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di daur
ulang.
3. Umur Ekonomis Aktiva (Economical Life Time)
Sebagian
besar, aktiva tetap
memiliki 2 jenis umur, yaitu :
Umur fisik :
Umur yang dikaitkan dengan kondisi fisik suatu aktiva. Suatu aktiva dikatakan masih
memiliki umur fisik apabila secara fisik aktiva tersebut masih dalam kondisi
baik (walaupun mungkin sudah menurun fungsinya).
4.
Umur Fungsional :
Umur yang dikaitkan dengan kontribusi aktiva tersebut dalam penggunaanya. Suatu
aktiva dikatakan masih memiliki umur fungsional apabila aktiva tersebut masih
memberikan kontribusi bagi perusahaan. Walaupun secara fisik suatu aktiva masih
dalam kondisi sangat baik, akan tetapi belum tentu masih memiliki umur
fungsional. Bisa saja aktiva tersebut tidak difungsikan lagi akibat perubahan
model atas produk yang dihasilkan, kondisi ini biasanya terjadi pada aktiva
mesin atau peralatan yang dipergunakan untuk membuat suatu produk. Atau aktiva
tersebut sudah tidak sesuai dengan jaman (not fashionable), kondisi ini biasanya
terjadi pada jenis aktiva yang bersifat dekoratif (misalnya :
furniture/mebeler, hiasan dinding, dsb).
Pola Penggunaan Aktiva
Pola penggunaan aktiva berpengaruh terhadap tingkat ke-aus-an aktiva, yang mana
untuk mengakomodasi situasi ini biasanya dipergunakan metode penyusutan yang
paling sesuai.
Metode-metode Penyusutan (Depreciation Method)
Ada berbagai metode
penyusutan, hanya beberapa metode saja yang biasa dipergunakan.
Berikut adalah 2 metode penyusutan yang paling banyak dipergunakan, karena
paling mudah dan paling relevan dengan perlakuan akuntansi.
Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
Konsep dasarnya :
Metode ini menganggap
aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata (tanpa fluktuasi)
disepanjang masa penggunaannya, sehingga aktiva tetap akan mengalami tingkat
penurunan fungsi yang sama dari periode ke periode hingga aktiva diarik dari
penggunaannya. Metode ini termasuk yang paling luas dipakai. Untuk penerapan
“Matching Cost Principle”, metode garis lurus dipergunakan untuk menyusutkan
aktiva-aktiva yang fungsionalnya tidak terpengaruh oleh besar kecilnya volume
produk/jasa yang dihasilkan. Misalnya : bangunan, peralatan kantor.
Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)
Konsep Dasarnya :
Aktiva tetap dianggap
akan memberikan kontribusi terbesar pada periode diawal-awal masa penggunaanya,
dan akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang semakin besar di periode
berikutnya seiring dengan semakin berkurangnya umur ekonomis atas aktiva
tersebut. Metode ini sesuai jika dipergunakan untuk jenis aktiva tetap yang
tingkat kehausannya tergantung darivolume produk yang dihasilkan, yaitu jenis
aktiva mesin produksi.
D. DEVINISI ASET TIDAK BERWUJUD DAN
CONTOHNYA
Didalam akuntansi, diakuinya sebuah aktiva tak berwujud
apabila:
-
Perusahaan
berpotensi akan mendapatkan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang dari aset
tersebut
-
Biaya
biaya dalam perolehannya bisa diukur dengan handal
Aktiva tak berwujud diakui sebesar harga perolehan. kemudian
pada periode selanjutnya dilaporkan sebesar nilai tercatatnya. dalam menentukan
besaran harga perolehan tergantung oleh bagaimana cara perolehan aktiva tak
berwujudnya. apabila diperoleh dengan membeli atau transaksi yang menggunakan
kas atau setara kas lainnya maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar
uang yang dikeluarkan/akan dibayarkan. jika diperoleh dengan pertukaran dengan
aktiva yang lain, maka harga perolehan aktiva tak berwujudnya sebesar harga
kekinian dari aktiva yang ditukar.
Contoh Aktiva Tak Berwujud
[1] Hak Sewa (Lease Hold)
Hak sewa diperoleh dari tansaksi sewa aktiva tertentu,
disahkan oleh notaris dan dalam tempo kurun waktu tertentu. misalnya sewa
gedung, sewa kendaraan, sewa mesin. alasan hak sewa diakui sebagai aset tak
berwujud karena:
·
Memberikan
kontribusi bagi entitas bisnis dimasa mendatang
·
Memiliki
masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Contoh
Hak Sewa
1.
PT
Tiban Jaya Rotan menyewa gedung untuk showroom-nya Rp 100.000.000 selama
10 tahun
2.
PT
Tiban Jaya Rotan menyewa mobil Rp 250.000 per hari untuk kliennya yang
berkunjung.
Pencatatan
:
Sewa Gedung
|
100.000.000
|
|||
kas
|
100.000.000
|
|||
Biaya Sewa
|
200.000
|
|||
Kas
|
200.000
|
|||
Kedua
transaksi "sewa" tersebut diperlakukan berbeda
1.
Sewa
gedung dicatat sebagai harga perolehan aktiva tak berwujud, berupa hak sewa
bangunan karena nilainya yang material dan manfaatnya lebih dari satu tahun
buku, yaitu selama 10 tahun kedepan
2.
Dalam
transaksi sewa mobil, biaya yang dikelaurkan dicatat sebagai biaya, karena
nilai nominalnya tidak terlalu material dan manfaatnya hanya satu hari atau
kurang dari satu tahun buku.
[2]
Hak Patent
Hak Paten merupakan hak yang didapat dari penemuan tertentu,
penemu tersebut akan mendapatkan manfaat dalam waktu tertentu dan dimasa
mendatang (bisa diperpanjang) contohnya penemuan formula, sistem, penemuan
produk, atau rekayasa.
[3] Trade Mark (Merek Dagang)
Merupakan
hak yang didapat dari suatu merk komersil terntentu. contoh logo, tulisan,
symbol ataupun kombinasinya yang mewakili entitas tertentu.
[4] Organization Cost
Merupakan pengeluaran entitas yang timbul sebelum berusahaan
beraktifitas operasi. misal biaya notaris, biaya seperti ini dicatat sebagai
perolehan aset tak berwujud karena manfaatnya yang diperoleh entitas saat itu
dan dimasa mendatang selama entitas masih beroperasi.
[5] Copyright (Hak Pengadaan)
Merupakan
hak yang diberikan karena suatu penulisan, ntah itu puisi, novel, karya ilmiah,
nada lagu maupun lirik, skenario film. Hak Pengadaan (copyright) bisa meliputi
hak mengedarkan dan memperbanyak karya tersebut
[6] Perijinan (Licences)
Hak
yang didapat dari pemerintahan utuk bisa melakukan aktifitas yang terkait
dengan bidang usaha perusahaan. Licences ini ada masa waktunya, apabila telah
habis, maka harus diperpanjang/diperbarui. biasanya ijin seperti ini mempunyai
jangka waktu lebih dari satu tahun buku, bisa 3 hingga 30 tahun.
[7] Franchise
Franchise
merupakan hak yang didapat guna melakukan jenis usaha tertentu, memasarkan
produk juga mengikuti polanya, penggunaan logo maupun pengelolaannya. yang
semuanya dimiliki oleh entitas yang memberikan franchise/waralaba
[8] Goodwill
Goodwil
adalah keistimewaan atau kelebihan tertentu yang dimiliki suatu entitas, diakui
apabila terjadi transaksi pada perushaan yang dinilai lebih oleh entitas lain.
transaksi bisa berupa merger atau akuisisi maupun penjualan perusahaan.
contohnya keistimewaan perusahaan karena mempunyai reputasi yang sangat bagus,
mempuyai produk yang tak dimiliki oleh para pesain maupun letak perusahaan yang
strategis.
Perlakuan Akuntansi Aset Tak
Berwujud
Dalam Akuntansi intangible Asset, sebenarnya hampir sama
permasalahannya dengan aktiva berwujud
1.
Perolehan
Aset Tak Berwujud dicatat dan diakui sebesar nilai faktur serta ditambah semua
biaya yang menyertai untuk mendapatkan aset/haknya (sama seperti tangibel
asset)
2.
Apabila
terjadi pengeluaran setelah perolehan aset tak berwujud (expenditure) biaya
biaya tersebut dikapitalisasi ataupun dibebankan ke periode berjalan, sama
seperti tangible asset
3.
Amortisasi Aset Tak Berwujud, seperti halnya penyusutan pada
aktiva tetap, dialokasikan harga perolehannya menjadi biaya (beban usaha).
pencatatan maupun penghitungan amortisasi sama caranya dengan penghitungan dan
pencatatan penyusutan aktiva tetap.
-
Kecuali
trade mark (merk dagang) yang dikelompokan kedalam HPP, mayoritas Amortisasi
merupakan biaya usaha
-
Metode
garis lurus mungkin lebih baik diaplikasikan dalam Amortisasi, karena aset tak
berwujud pada dasarnya tak berhubungan dengan produk/output yang dihasilkan
entitas bisnis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar